Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan seseorang mengenai hal ini, dan ia menyarankan agar saya menulis sebuah artikel tentang topik tersebut. Awalnya saya tidak terlalu merasakan dorongan apa pun untuk menuliskannya, tetapi karena saat ini saya punya sedikit waktu luang, saya pun memutuskan untuk membagikan sudut pandang saya mengenai masalah ini.
Saya sering menemukan unggahan di beranda Facebook yang menyiratkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Contohnya slogan Coca-Cola seperti “Life is what you make it” (Hidup adalah apa yang Anda ciptakan sendiri) dan “Take control of your life” (Kendalikan hidup Anda sendiri)… “You and you alone are responsible for your own actions” (Anda dan hanya Anda yang bertanggung jawab atas tindakan Anda sendiri). Reaksi saya kurang lebih adalah, “Omong kosong belaka.” Sederhananya, TIDAK ada yang namanya kehendak bebas; kehendak bebas hanya ada dalam pengertian tidak langsung, misalnya Anda bisa memutuskan apa yang ingin Anda makan malam ini—dan itu saja. Yang menurut saya mengganggu adalah betapa naifnya orang-orang yang tidak menyadari bahwa mereka sama sekali tidak memiliki pilihan ketika menyangkut keberadaan mereka sendiri. Apakah ada di antara kita yang memilih kapan, bagaimana, dan dalam keadaan apa kita ingin dilahirkan—atau bahkan memilih untuk dilahirkan ke dunia ini? TIDAK. Apakah kita memilih nama kita sendiri, jenis kelamin, ras, atau orang tua kita? TIDAK. Apakah kita memilih minat dan sifat karakter kita sendiri? TIDAK. Poinnya jelas: kita tidak memilih apa pun. Ada sebuah pepatah dalam bahasa Belanda… hidup itu seperti kertas toilet; Anda mendapatkan gulungan dan harus bertahan dengan itu (kata roll di sini juga bermakna role atau peran). Secara gamblang, kita hanyalah pion dalam permainan catur Tuhan. Namun tentu saja, hal itu tidak berarti bahwa keberadaan ini sia-sia dan bahwa Anda tidak seharusnya melakukan apa pun atau menyerah begitu saja karena “tidak ada gunanya”. Intinya adalah bahwa apa pun yang kita lakukan, semuanya telah ditentukan dan sudah diputuskan sebelumnya. Seluruh takdir kita. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Itulah definisi sejati dari kemahakuasaan: menentukan segalanya, semuanya berada di bawah kendali-Nya. Kita semua harus tunduk padanya, suka atau tidak. Bahkan para Malaikat sekalipun. Jadi tidak, tidak pernah ada perang besar di surga atau apa pun yang pernah menantang kekuasaan Tuhan. Semuanya adalah bagian dari rencana-Nya, tidak lebih dari sebuah peristiwa yang telah ditakdirkan sebelumnya, seperti halnya segala sesuatu yang lain.
Tidak ada apa pun yang menentang, menantang, atau bahkan sedikit pun mengancam Tuhan. Ingatlah hal itu.
